Ketika Twilight dan Rarity Main Bersama

"Anak gak butuh game atau hp canggih bapak ibu. Mereka kelihatan senang saat main gadget karena kita yang membuat mereka seperti itu. Sebetulnya mereka lebih suka main bersama kita, orang tuanya. Jenis permainannya tidak penting. Yang penting itu keterlibatan orang tua."

Mbak Elizabeth Santosa, M.Psi, Psi, SFP, ACC (mbak Lizzie)



Kata-kata mbak Lizzie, psikolog yang menjadi pembicara dalam event Lactogrow Grow Happy di The Palis Restaurant Semarang tanggal 16 Oktober 2018, terasa begitu menohok perasaan saya.

Ingatan saya melayang ke peristiwa tiga hari yang lalu...

******

"Budheeeee..." Keponakan saya, Dita, 4 tahun, menghambur menyambut kedatangan saya sore itu.

Saya pun menghampiri dan memeluknya. Saya juga kangen sama gadis kecil ini.

Seperti yang sudah saya duga. Ia pun bergegas mengambil dua buah mainan kuda poni nya.


"Main yuk, Budhe." Dita mengangsurkan Rarity, kuda poni berwarna putih ke saya.

Semenjak saya meladeni ajakannya bermain peran menggunakan kuda poni, setiap kali saya berkunjung Dita akan langsung 'menodong' main poni.

"Oke," jawab saya.

Kiri: Twilight Sparkle, Kanan: Rarity

Kami pun menghabiskan 20 menit selanjutnya dengan bermain my little pony. Sampai akhirnya ... saya bosan.

Dari tadi si Twilight dan Rarity kerjanya hanya bangun tidur, sekolah, main masak-masakan, lalu tidur lagi. Bangun tidur, lalu sekolah, lalu main masak-masakan, lalu tidur lagi. Begitu terus.

"Udah ya. Budhe lapar. Mau makan dulu," kata saya. Selain jenuh bermain, perut ini juga minta diisi.

"Tapi nanti habis makan, main lagi ya," pinta Dita.

"Habis makan Budhe mau pulang," jawab saya. Saya tidak mau memberi harapan palsu, karena setelah makan memang saya bermaksud pulang.

[Eh. Mungkin enggak langsung pulang, tapi ngobrol dulu dengan adik saya, bundanya Dita. Yang jelas tidak ada lagi agenda bermain setelah makan.]

Wajah Dita langsung merengut. Matanya berkaca-kaca. Kelihatan sedih sekali.

"Budhe gak usah pulang. Tidur sini aja," rengeknya lirih.

Duh. Jadi gak tega melihat ekspresinya. Saya kuatkan hati untuk memberi pengertian pada Dita.

"Budhe kan rumahnya enggak disini. Budhe harus pulang. Besok kalau ketemu, kita main lagi ya."

Dita masih menangis saat saya memeluknya. Tapi kemudian ia setuju untuk stop bermain dan menemani saya menuju meja makan. Saya pun merasa lega.

***

Sayangnya kelegaan itu hanya sementara. Sampai di rumah, saya terbayang lagi wajah sedihnya. Dan tiba-tiba saya merasa sangat bersalah 😔

Bukankah paling lama 10 tahun lagi ia akan mengajak saya bermain? Setelah itu ia akan sibuk dengan sekolah dan kawan-kawannya. Lalu kenapa saya tidak memanfaatkan masa ini sebaik-baiknya? Kenapa malah memilih mengabaikan ajakannya?

[Bisa jadi inilah alasan mengapa di 7 tahun pernikahan kami belum dikaruniai putra. Jangan-jangan saya dianggap belum pantas jadi ibu. Bermain sebentar dengan keponakan saja sudah bosan. Apalagi nanti harus 24 jam mengurus anak sendiri?]

Hal ini membangkitkan kesadaran saya. Saya harus mencari cara agar bisa mengatasi kejenuhan dalam bermain poni!
(Sudah pernah mencoba ganti permainan, tapi Dita memang lebih suka bermain peran)

Malam itu saya tertidur sambil membayangkan bermain poni bersama Dita.

***

Saya membeli selembar karton putih, satu buah penggaris, dan satu set spidol warna. Saya sudah membayangkan betapa asyiknya permainan poni kali ini.

"Budheee... ." Dita bahagia sekali menyambut kehadiran saya siang itu. Saya pun tersenyum lebar dan menyambut pelukannya.

"Main poni, yuk," ajaknya.

"Ayuk!" jawab saya antusias. "Dita sudah makan belum?"

"Sudah."

"Sama apa?"

"Sama ikan."

Saya tersenyum dan mengacungkan jempol.

Setahun yang lalu, keponakan saya ini tidak mau makan nasi. Maunya cuma makan biskuit dan minum susu. Satu hari bisa 4-5 gelas susu! Pantas jika tidak mau makan nasi. Dia sudah kenyang minum susu.

[Menurut dokter Fira, dokter spesialis anak yang juga menjadi pembicara di event Lactogrow Grow Happy, anak berusia diatas 1 tahun cukup minum 1 gelas susu per hari. Anak-anak butuh nutrisi yang seimbang agar tumbuh kembangnya maksimal. Tidak hanya faktor psikologisnya yang perlu ditumbuhkan, kebutuhan fisiknya pun harus terpenuhi agar bisa mendukung si kecil tumbuh bahagia.]


dr. Fatima Safira Alatas Ph.D, Sp.A(K) (dokter Fira)

Dita sudah membawa dua buah kuda poni favoritnya ke dalam kamar. Lalu keluar lagi karena melihat saya yang malah menuju ke ruang tengah.

"Di kamar yuk, Budhe, " katanya.

"Enggak. Disini aja mainnya," jawab saya.

Dita tampak keberatan. Tapi kemudian menjawab "Iya deh" dengan ceria.

Saya membuka lembaran karton putih, lalu mengeluarkan spidol warna.

"Ayo, Budhe." Dita mengulurkan Rarity ke saya. Tidak sabar ingin main.

"Sebentar ya," kata saya. Biasanya ada rasa gak enak di hati saya saat membuatnya menunggu. Tapi kali ini berbeda. Dita pasti suka saat tau apa yang saya siapkan untuknya.

"Kita bikin taman, bikin sekolah, sama bikin rumahnya Twilight dan Rarity dulu yuk." Saya menjelaskan. Mata Dita langsung berbinar menyadari peruntukan dari karton putih yang saya gelar di lantai.

Saya membiarkan Dita menggambar rumah untuk Twilight, mengisi rumahnya dengan meja kursi, membuat kantor, dan membuat pohon. Saya sendiri membuat sungai dan jembatan di tengah karton supaya suasana lebih hidup.



Di luar dugaan, Aldi, kakaknya Dita yang berusia 10 tahun tertarik dengan permainan ini!

"Budhe, aku bikin sekolahnya ya!" Aldi mengambil spidol warna hitam dan mulai menggambar.

MasyaAllah... Saya tertegun. Aldi ini gadget mania. Waktu liburnya kerap dihabiskan dengan nonton youtube dan main game. Dia akan mengeluh (bahkan marah) jika diminta meninggalkan gadgetnya.

Tapi saat ini saya melihat Aldi begitu antusias menggambar area sekolah. Ia tampak fokus dan asyik membuat ruang kelas, lapangan sepak bola, dan kantin.


Bahkan kemudian ia menyobek sebuah karton coklat yang tergeletak tak jauh dari situ dan menuliskan namanya. Dia memutuskan ikut bermain peran! Padahal biasanya dia tidak suka bermain dengan adiknya 😅

Setelah selesai menggambar sekolah, Aldi mulai menggambar rumah untuk dirinya. Ia pun membuat garasi dan mengambil mobil-mobilan miliknya, lalu diletakkan di garasi.

Rumah Aldi

Dua keponakan saya ini sekarang sibuk membangun properti. Aldi membuat rumah untuk pak Guru, membuat kolam renang untuk Rarity, dan membuat masjid di dekat sekolah.
Dita membuat jalan di ujung jembatan. Bahkan dengan mantap menambahkan strip di tengah jalan tersebut.
Kok dia tau ya soal marka jalan?


Kak Aldi sedang menggambar rumah untuk Rarity,
Dita menggambar perosotan di taman

Saya pun bermain sebentar dengan keduanya. Twilight (Dita) dan Rarity (saya) pergi sekolah, lalu bermain di taman dan memancing ikan di sungai. Lalu Rarity dan kak Aldi bermain sepak bola. Setelah itu, Rarity sama Twilight memutuskan untuk main ke rumah kak Aldi.


Permainan kali ini tidak melulu bermain peran. Beberapa kali Twilight dan Rarity off karena dua ponakan saya sibuk melengkapi properti.

"Dita, Budhe mau makan dulu ya." Entah kenapa permainan ini selalu membuat saya lapar 😁

"Iya," jawab Dita.

Tidak seperti kemarin. Kali ini Dita tampak ikhlas melepas kepergian saya ke meja makan. Ia bahkan menjawab tanpa memalingkan pandangannya dari ikan yang tengah digambarnya.

Langkah kaki saya pun terasa ringan.

Saya makan sambil melihat Aldi dan Dita bermain. Keduanya tampak bahagia. Saya hampir menangis menyadari betapa sederhana cara untuk membuat anak-anak ini bahagia.

Dan ketika kemudian permainan saya akhiri, tidak ada tangis ataupun rengekan keberatan dari Dita. Malahan dua ponakan saya dengan senang hati membereskan mainannya.


Jelas bahwa mereka sudah puas bermain. Saya pun pulang dengan bahagia.


******

"Silahkan ambil kertas di depan Anda. Tulis hal-hal yang telah berhasil anda lakukan dan membuat kebahagiaan untuk diri anda dalam minggu ini." Instruksi dari mbak Lizzie membubarkan lamunan saya.

Saya meraih kertas yang dimaksud dan mulai menulis: Saya berhasil membuat permainan yang mengasyikkan untuk keponakan perempuan saya. Dan keponakan laki-laki saya pun ikut bermain.


Saya rasa itulah pencapaian terbesar saya untuk minggu ini. Saya bahagia sekaligus bangga pada diri saya sendiri 😍

Anak-anak ini, tak lama lagi tau-tau jadi dewasa. Anda akan heran betapa waktu bisa berjalan begitu cepat. Mengingat waktu tidak bisa diputar lagi, mari ayah bunda, kita upayakan terlibat dalam setiap aktivitas mereka. Hadir saja tidak cukup lho. Harus terlibat!
Lets makes our children grow happy 😊


Baca juga: kunci kebahagiaan anak

Komentar

  1. Terharu bacanya, iya anak-anak hanya sebentar masa kanak-kanaknya sebentar lagi ABG dah sibuk main dengan teman-temannya hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Semoga jadi penyemangat juga untuk para ayah dan ibu diluar sana.

      Hapus
  2. Saya juga ngerasa gitu mbak, kalau anak diajak main meski lagi pegang hp ternyata dia lebih pilih main sama mamanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah...
      Manfaatkan momen ini ya mba 👍
      Terus terlibat

      Hapus
  3. Kata salah satu mentor parenting saya, waktu kita sama anak-anak itu hanya 12 tahun... selebihnya mereka akan punya dunia sendiri. Maka kalau dalam pendidikan parenting Islami, anak-anak sebaiknya sudah siap "dilepas" sejak usia 10 tahun.. masa-masa aqil baligh, paham kewajiban dan haknya, mengerti mau jadi apa...

    Sayang sebagai ortu kita lupa menyiapkan ini, melengkapi dengan berbagai fasilitas atas dasar rasa cinta kasih yang malah menjadikannya kecanduan, malas, dsb... dan banyak ortu pun seringkali malas ngajak main (termasuk saya kadang2), apalagi kalau dah capek ngurusin kerjaan.. alhasil gadget dijadikan alat untuk membahagiakan mereka.

    Makanya kalau anak-anak ultah, aku suka sedih.. menghitung waktu yang sudah kusia-siakan dan menghitung sisa waktu yang kupunya untuk bisa bersama mereka secara intens..

    Btw, kereeen ih... ide mainannya bisa ditiru :) Makasih sharingnya mbak.

    BalasHapus

Posting Komentar