Wisata Dusun Semilir di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

Tumben!

Biasanya Papa tuh enggan diajak ke tempat wisata. Tapi saat diajak ke Dusun Semilir, beliau tampak antusias. Entah karena sudah bosan berbulan-bulan di rumah saja, atau karena stupa-stupa yang tampak saat kami melewati jalan raya Bawen-Ambarawa ini begitu menggoda.


Marthajalanjalan
Stupa-stupa yang bikin penasaran.
Seperti apa isinya?


Sebetulnya saya lebih suka wisata di kala weekday. Hari biasa. Suasana relatif sepi dan tidak perlu antri untuk menaiki wahana yang ada. Namun karena ingin melihat Dusun Semilir secara komplit maka kami datang saat weekend. Soalnya di hari Sabtu dan Minggu hampir semua tenant buka.


Sabtu, 15 Agustus 2020 jam 16.20 wib kami tiba di gerbang Dusun Semilir. Sengaja pilih sore karena saya dapat info kalau cuaca lebih bersahabat (baca: gak panas). Dan nanti jelang malam saat lampu-lampu mulai dinyalakan katanya bakal keren banget 😍


Dua orang petugas langsung menyambut kami di bagian kiri dan kanan. Rupanya mereka bertugas menginformasikan soal kewajiban memakai masker/face shield dan memeriksa suhu tubuh pengunjung.


Pemeriksaan masker dan suhu tubuh


Suhu tubuh kami rata-rata di angka 36°C. Normal. Oleh petugas kami diijinkan masuk lokasi. Mobil pun meluncur mencari area parkir. Awalnya sudah senang melihat area kosong di depan lobby. Dekat dan ada kanopinya. Setelah dilihat dengan seksama, ternyata untuk menempati area tersebut ada tarif khusus: Rp 30.000. Auto melipir cari tempat lain. Hahaha.


Kerucut orange penanda area parkir khusus.
Tarif parkir umum mobil Rp 10.000


Karena kami sudah membeli tiket masuk secara online, maka kami pun mencari loket penukaran tiket yang ternyata ada di dalam lobby. Pas mau masuk lobby, kami diminta memakai handsanitizer. Tak lupa tas kami diperiksa, memastikan tidak ada makanan dan minuman yang kami bawa.


Pemberian handsanitizer oleh petugas di lobby.
Setelahnya ada Pak Satpam yang bertugas memeriksa tas/bawaan pengunjung


Tempat penukaran tiket online.
Di rak belakang tampak botol minum milik pengunjung yang dititipkan (tidak boleh dibawa masuk area wisata)


Kami harus antri dan jaga jarak saat melewati palang tiket masuk. Suara operator juga terus bergema, mengingatkan pengunjung agar terus memakai masker dan jaga jarak.


Ini tiket masuknya. Dapat beberapa compliment.
Free Yuzu (teh) bisa diambil langsung saat mau masuk atau pun di saat keluar/pulang.


Garis antrian masuk palang tiket agar pengunjung jaga jarak, sesuai protokol kesehatan.


Nah, pas saya udah melewati palang tiket, saya mendengar petugas palang tiket tengah menegur serombongan keluarga.


"Mohon maaf, Ibu. Tolong adiknya dipakaikan masker atau face shield," kata petugas sambil menunjuk seorang balita yang ada di kereta dorong.


Baby sitternya segera memakaikan face shield ke si adek. Setelah itu baru mereka diijinkan masuk. Wah wah wah. Ketat juga ya protokol kesehatannya.


Begitu masuk, kami disuguhi pemandangan stupa-stupa, area eropa dan juga kolam yang berisi Otter. Ada Jembatan Senggol di sebelah kiri, dan Alas Tirta di sebelah kanan. Kami memutuskan berjalan ke Jembatan Senggol yang luas dan landai.


Tak tahan untuk langsung wefie

Alun Eropa sangat eye catching

Entah kenapa diberi nama jembatan senggol. Padahal areanya cukup luas, gak ada senggol-menyenggol

Alas Tirta jalurnya menurun tajam

Seandainya kami tiba pukul 16.00 wib, kami bisa melihat aksi feeding Otter.


Di sepanjang Jembatan Senggol ada berbagai ornamen dan juga spot untuk foto-foto. Cakep-cakep deh. Tiap jalan 5 menit, kami berhenti untuk foto. Saya sengaja bawa tripod biar bisa foto bareng. Meski long weekend tapi jalanan masih cukup lega. Saya leluasa pasang tripod tanpa takut mengganggu perjalanan orang lain.


Wefie lagi


"Bapak, maaf!" Terdengar suara tegas Bu Satpam. Kami otomatis menoleh. Kenapa nih?

Ternyata Bu Satpam menegur orang yang berjalan di dekat kami. "Tolong maskernya dipakai," lanjut Bu Satpam.


Si bapak dan ibu yang menurunkan masker ke dagu lekas-lekas memasang kembali maskernya. Demikian juga dengan sepasang muda-mudi yang reflek membetulkan masker mereka yang terjuntai di dada. Dalam hati saya memuji ketegasan petugas di sini. Ini demi kenyamanan dan kesehatan bersama kan.


Kami pun melanjutkan perjalanan. Setelah melewati area pujasera, kami sampai di stupa dengan jalur melingkar ke puncaknya. Sudah ada sekitar belasan orang berdiri di jalur tersebut. Rupanya mereka tengah antri wahana perosotan raksasa! Saya yang tadinya ingin coba wahana ini langsung ciut nyali mendapati betapa tinggi garis startnya 🙈 Apalagi dengan antrian mengular seperti itu, membuat kami semakin yakin untuk melewatkan wahana perosotan dan meneruskan perjalanan ke arah kiri.


Kurungan raksasa: spot tempat duduk unik di pujasera


Antrian main perosotan


Perosotan raksasa.
Biaya Rp 15.000/orang


Di sepanjang jalan di sebelah kiri perosotan ini baru deh saya paham kenapa obyek wisata ini dinamakan Dusun Semilir. Soalnya di sini terasa banget angin semilirnya (sepoi-sepoi).


Di sini nih terasa semilirnya (sepoi-sepoi).
Lampu kelap-kelip menambah cantik suasana senja.


Melihat lampion ini Mama langsung minta foto


Perjalanan berlanjut ke Jalan Kenangan. Ini adalah lorong berisi aneka kuliner, souvenir, bahkan ada ikan hias juga. Memasuki lorong ini rasanya seperti tengah kecemplung dalam kubangan pelangi: colorful!


Beneran cakep pas lampu-lampu mulai menyala 😍

Warna-warni Jl. Kenangan


Tergoda dengan menu yang ada, kami pun mampir di kedai kuliner. Saya pesan gendar pecel, Mama pesan nasi ayam bakar, sedangkan Icha pilih antri beli tahu kuwalik.


Aneka kuliner dengan harga terjangkau

Satu porsi gendar pecel Rp 12.000

Selesai makan, kami kembali meneruskan perjalanan. Area selanjutnya adalah Pelataran. Pelataran ini merupakan tanah lapang dengan panggung besar di sebelah kanan. Sudah mulai gelap pas kami sampai di area ini. Waktu berjalan cepat sekali lho.



Area Pelataran


Saat itu di Pelataran ada pertunjukan live DJ. Kalau datang hari Minggu, di Pelataran ada live music. Cek instagram Dusun Semilir sebelum kemari supaya tau info ter-up date. Sering ada promo juga tuh.


Kami cuma lewat aja di Pelataran, lurus menuju ke area Eropa. Berharap masih bisa naik trem untuk keliling Alun Eropa. Sayangnya pukul 18.00 wib semua wahana berhenti beroperasi. Memang terkait adaptasi kebiasaan baru, Dusun Semilir memangkas jam operasional. Biasanya tutup pukul 21.00, sekarang tutup pukul 19.00 wib. Yaah. Gagal deh foto-foto di depan bangunan-bangunan warna-warni khas Eropa 🙁


Padahal di Alun Eropa juga ada wahana baru, yaitu naik gondola. Itu lho, perahu dayung yang seperti di Venesia. Kami pun melewatkan feeding domba dan kelinci, melewatkan naik kereta, permainan ATV, dan panahan. Ya udah deh. Mungkin kapan-kapan bisa ke sini lagi. Besok-besok harus datang awal supaya kebagian semua area.


Kelincinya lucu-lucu!

Area Permainan ATV

Gak sempat naik kereta api.
Foto aja sama Papa

Jadi Robin Hood

Gak sempat masuk ke Gunungan juga karena udah mau tutup


"Mama gak kuat kalau harus balik ke jalan tadi lagi," keluh Mama. Jalur keluar-masuknya sama. Sehingga kalau pas masuk tadi jalannya menurun, maka saat mau keluar jalannya jadi menanjak.


Saya inisiatif menemui satpam di dekat Alun Eropa.


"Pak, Mama saya gak kuat kalau harus jalan nanjak. Ada alternatif jalan keluar yang datar gak?" tanya saya.


"Ada. Nanti lewat sana. Silahkan saya antar," kata Pak Satpam.


Akhirnya Mama dan Papa saya diantar Pak Satpam ke arah pintu keluar darurat, dekat parkiran motor. Kami? Ya disuruh lewat jalan keluar yang seharusnya laah. Naik-naik ke puncak gunung stupa. Hihihi.



Pak Satpam yang telah berbaik hati mengantar Mama dan Papa

Meski menanjak, tapi karena viewnya bagus gini gak terasa capek. Lima menit sudah sampai pintu keluar.


Wisata kali ini sangat menyenangkan. Fasilitas seperti toilet, tempat cuci tangan, dan tempat selonjoran ada di beberapa titik.


Musholla di dalam area wisata.
Ada juga di luar, yaitu dekat area parkir motor.


Toilet sebelum masuk Jl. Kenangan.
Toiletnya bersih.

Wastafel cuci tangan ada di beberapa titik

Sign board peringatan yang tersebar di setiap area


Melihat protokol kesehatan yang ketat begini, kami juga merasa nyaman. Semakin yakin kalau harus diagendakan ke sini lagi.


Peta area wisata Dusun Semilir.
Dipelajari dulu supaya tidak ada wahana yang terlewat



*Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Blog "Wisata Kabupaten Semarang di Era Adaptasi Baru"

Komentar